Minggu, 02 Maret 2008

Menjemput kemuliaan NIkah


Nasehat nikah itu berbunyi, “Bersiap-siaplah engkau menghadapi banyak hal yang belum pernah terbayang. Menghadapi keadaan-keadaan sulit, bahkan mungkin teramat sulit. Berat, bahkan teramat berat yang belum pernah engkau rasakan sebelumnya. Meskipun juga engkau akan merasakan keindahan, kebahagiaan yang juga belum pernah engkau nikmati.”

Perjanjian Berat Penuh Amanah

Saudaraku karena Allah, sesekali menyendirilah. Ingat kembali saat-saat janji suci akad nikah itu diikrarkan. Ikrar suci menggema. Perjanjian berat menggunakan nama Allah itu engkau terima. Ikrar berat itu disaksikan para malaikat. Ya, engkau telah berani mengambil sebuah perjanjian berat atas nama Allah Rabb semesta alam, mitsaqan ghalidzan.

Pernikahan bukanlah ikatan main-main. Biarpun di dalamnya ada keindahan dan kesenangan-kesenangan yang boleh dinikmati berdua, namun di balik itu ada amanah besar. Ya, amanah besar yang kelak akan engkau pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Rasulullah bersabda, “Takutlah kepada Allah dari urusan kaum wanita, karena kalian telah mengambilnya dengan amanat Allah, kehormatan mereka telah halal bagi kalian dengan kalimat Allah....” (H.R. Muslim)

Saudaraku karena Allah, pernikahan juga berarti keberanian mengambil keputusan besar dalam hidup. Kalian telah berani memilih jalan kemuliaan. Jalan yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya. Kata nabi, jalan penyempurnaan separo agama.

Beda dengan jalannya para pengecut. Ya, di luar sana, banyak laki-laki pengecut yang hanya berani bermain perempuan namun tidak siap untuk mengambil tanggungjawab pernikahan. Dan, banyak wanita pengecut yang hanya berani berteman dengan laki-laki namun tidak siap untuk dinikahi.

Padahal Rasulullah saw. bersabda, “Wahai para pemuda barangsiapa di antara kalian mampu untuk ba’ah, maka nikahlah. Karena yang demikian (menikah) itu akan menjaga pandanganmu dan menyelamatkan farjimu ...” (Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah juga mengabarkan, bahwa orang yang menikah akan ditolong oleh Allah. Beliau bersabda, “Ada tiga golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah. Yaitu mujahid fi sabilillah, seorang budak yang hendak menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya.” (H.R Ahmad)

Orientasi Rumah Tangga

Saudaraku, memahami dan menjalankan tugas masing-masing (suami-istri) dengan benar menjadi sebuah keniscayaan dalam hidup berumah tangga. Memiliki persepsi yang sama tentang tujuan, dan orientasi hidup adalah suatu keutamaan. Mengarahkan laju berlayarnya bahtera rumah tangga menuju ridha Allah adalah kepastian. Dan menjadikan al Qur’an dan Sunnah sebagai panduan adalah keharusan.

Jangan seperti umumnya masyarakat. Orientasi hidup mereka bukan agama, tapi materi. Hampir seluruh aktifitas hidup mereka berputar pada poros ini, mengejar materi. Waktu, tenaga, pikiran, dan semuanya dikuras habis. Bahkan sampai meninggalkan kewajiban terbesar (ibadah dan berda’wah) hanya untuk mengejar ‘tuhan’ baru ini, materi.

Materi dianggap sebagai sumber kebahagiaan. Segala aktifitas direncanakan dan dilakukan hanya untuk menghasilkan materi. Yang dipikirkan hanya seputar bagaimana cara memiliki rumah, tanah, mobil, makan enak, pakaian indah. Kesuksesan sebuah keluarga hanya diukur dengan banyaknya materi yang dimiliki. Padahal, persoalan hidup kita bukan hanya sekedar persoalan makan, pakaian, rumah, dan segala kelengkapanya. Bukan. Ada hal lain yang juga penting untuk diperhatikan, yakni agama dan masa depan akhirat.

Ketika ada seseorang mengeluh, mengadukan persoalan hidupnya yang sempit, seorang ulama besar Mesir menasehati, “Persoalan terbesar kita dalam hidup ini bukan dunia, bukan kemiskinan, tetapi apakah kita kelak masuk surga atau tidak.” Ya, benar, apakah kita dan keluarga yang kita bangun ini, kelak bisa reuni di surga sana atau tidak? Inilah persoalan penting yang juga harus kita pikirkan. Tapi justru ini yang sering tak terpikirkan.

Saudaraku, pernyataan itu bukan bermaksud menyuruh kita mengabaikan masa depan dunia, melainkan hanya ‘sekedar’ mengingatkan bahwa selain persoalan dunia (ekonomi sulit), kita juga harus memikirkan nasib masa depan akhirat kita. Jangan dibelenggu persoalan dunia.

Jadikan Islam Sebagai Asas Keluarga

Saudaraku fillah, di antara suami istri pasti banyak memiliki perbedaan. Berbeda latar belakang, kebiasaan, sifat, cara berpikir, dan lain sebagainya. Dan tidak mustahil perbedaan-perbedaan itu bisa memicu munculnya masalah. Nah, jika kita dalam masalah, sepakatlah untuk menjadikan Islam sebagai pemecahnya. Apa saja perbedaan itu, tanyakan pada syariat Islam. Apa pun jawaban Islam tentang itu, terimalah.

Jangan egois. Jangan mengukur kebenaran dengan akal dan nafsumu. Sebab nikah kalian berlandaskan agama, sehingga kalian harus rela diatur oleh agama. Allah berfirman:

(

Artinya, “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an Nisa’ : 59).

Tanyakan pada syariat sebelum mengambil keputusan dalam segala urusan. Kemudian terimalah keputusan syariat dengan ketundukan. Allah berfirman, “Demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (TQS an Nisa’ : 65)

Ditegaskan lagi oleh Allah bahwa setiap muslim tidak memiliki pilihan setelah Allah memutuskan hukum. “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka.” (TQS al- Ahzab : 36)

Saudaraku, jadikan nabi saw. sebagai satu-satunya panutan. Jangan mencontoh gaya berumah tangga para artis atau masyarakat umum. Allah berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian.” (T.Q.S al Ahzab : 2)

Cukupkanlah hanya kepada nabi saw, kita berittiba’. Sebab mengikuti beliau adalah bukti iman kita kepada Allah. Allah berfirman, “Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (T.Q.S Ali Imran : 31)

Dalam setiap masalah yang kalian hadapi, mudahkan untuk saling minta maaf seperti halnya Rasulullah. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Rasulullah bukanlah seorang yang keji dan tidak suka berkata keji, beliau bukan seorang yang suka berteriak-teriak di pasar dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, beliau suka memaafkan dan merelakan.” (H.R Ahmad)

Jadilah Istri Shalihah

Saudaraku karena Allah, salah satu kunci kebahagiaan rumah tangga adalah jika kedua pihak (suami istri) mampu menjalankan fungsinya dengan benar. Seorang istri menjadi istri shalihah dan seorang suami menjadi suami yang shalih. Sungguh, istri shalihah adalah wanita idaman setiap suami.

Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia. ‘Abdullah ibn ‘Amr r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda :

«الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرً مَتَاعِهاَ اْلمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ»

Dunia itu perhiasan; sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah. (H.R Muslim).

Ciri-ciri istri shalihah kurang lebih sebagai berikut:

Pertama, menaati Allah dan suaminya. Allah Swt. berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ

Wanita yang shalihah adalah yang menaati Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka” (QS an-Nisa’ [4]: 3).

Abu Hurairah juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«لَوْ كُنْتُ آمِرًا اَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ لأَمَرْتُ الْمَرْاَةَ اَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا»

Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, aku pasti akan memerintahkan kepada wanita untuk bersujud kepada suaminya. (H.R at-Turmudzi).

Hadis ini disahihkan oleh al-Hakim dan Ibn Hibban. Dalam riwayat Ibn Hibban ditambahkan kalimat:

«وَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِي حَقَّ زّوْجِهَا»

Demi Zat Yang jiwaku ada di tangan-Nya, seorang wanita dipandang belum menunaikan hak Tuhannya sebelum ia menunaikan hak suaminya. (H.R Ibn Hibban).

Kedua, berhias hanya untuk suaminya.

Rasulullah saw. pernah bersabda, sebagaimana dituturkan Sa‘ad, demikian:

«فَمِنَ السَّعَادَةِ الْمَرْأَةُ تَرَاهَا تُعْجِبُكَ وَتُغِيْبُهَا فَتَأْمَنُهَا عَلَى نَفْسِهَا وَ مَالِكَ»

Di antara kebahagiaan itu ialah istri yang jika engkau pandang, ia membuatmu takjub, dan jika engkau meninggalkannya, ia akan memelihara dirinya dan hartamu. (H.R al-Hakim).

Ketiga, memelihara rumah, diri, dan harta suaminya.

Hukum asal seorang wanita adalah sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt (sebagai ibu dan pengatur rumah tangga). Hal ini didasarkan pada hadis dari Ibn ‘Umar. Disebutkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

« وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»

Seorang wanita (istri) adalah pemimpin (pengurus) rumah suaminya dan anak-anaknya; ia bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Abu Hurairah r.a. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِْبِلَ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ»

Sebaik-baik wanita yang menunggang unta adalah wanita Quraisy; ia sangat menyayangi anaknya ketika kecil dan sangat memperhatikan suaminya ketika ada di sisinya. (H.R Muslim).

Keempat, membantu suaminya dalam urusan akhirat.

Rasulullah saw. bersabda:

«لِيَتَّخِذْ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِينُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْآخِرَةِ»

Hendaknya salah seorang di antara kalian mempunyai kalbu yang bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir, dan istri yang beriman yang dapat membantumu dalam urusan akhirat. (H.R Ibn Majah).

‘Abdurrahman ibn Abza juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah berkata yang artinya, “Seorang wanita shalihah bagi seorang laki-laki adalah seperti mahkota yang bertahtakan emas di atas kepala seorang raja. Sebaliknya, seorang wanita yang buruk bagi seorang laki-laki adalah seperti beban yang berat di pundak seorang laki-laki tua.” (H.R Ibn Abu Syaibah).

Kelima, memiliki bekal agama yang baik.

Ibn Majah meriwayatkan dari ‘Abdullah ibn ‘Amr ia berkata : Rasulullah saw. bersabda :

«لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لأَِمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ وَلأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ»

Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya karena kecantikannya itu akan menjadikannya berlebihan; jangan pula kalian menikahi wanita karena hartanya karena hartanya itu akan membuatnya membangkang. Nikahilah wanita atas dasar agamanya. Sesungguhnya seorang hamba sahaya perempuan yang hitam legam yang memiliki kebaikan agama adalah lebih utama. (H.R Ibn Majah).

Abu Adzinah ash-Shudfi menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«خَيْرُ نِسَائِكُمْ اْلوَدُوْدُ اْلوَلُوْدُ اْلمُوَاتِيَةُ اْلمُوَاسِيَةُ إِذَا اتَّقَيَنَّ اللهَ»

Sebaik-baik istri kalian adalah yang penyayang, banyak anak (subur), suka menghibur, dan membantu jika ia bertakwa kepada Allah. (H.R al-Baihaqi).

Keenam, mempergauli suaminya dengan baik untuk memelihara keridhaannya.

Rasulullah saw. bersabda, “Pergilah kepada wanita mana saja dan beritahulah mereka yang ada di belakangmu, bahwa kebaikan salah seorang di antara kalian (para wanita) dalam memperlakukan suaminya, mencari keridhaan suaminya, dan mengikuti keinginannya adalah mengalahkan (pahala) semua itu (jihad, sholat jamaah).” (H.R al-Baihaqi).

Di antara kebaikan pergaulan wanita terhadap suaminya adalah ia tidak berpuasa sunnah jika suaminya berada di rumah, kecuali seizin suaminya; juga tidak mengizinkan bukan mahramnya berada di rumah suaminya, kecuali seizin suaminya. Abu Hurairah r.a. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ وَلاَ تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلاَّ بِإِذْنِهِ»

Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa (sunah), sedangkan suaminya berada di rumahnya, kecuali seizin suaminya; jangan pula ia mengundang seseorang ke rumah suaminya, kecuali seizin suaminya. (H.R al-Bukhari dan Muslim).

Termasuk kebaikan pergaulan istri kepada suaminya adalah bahwa ia tidak mendirikan shalat sunnah pada malam hari, kecuali seizin suaminya.

Ibn ‘Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لاَ تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ أَوْشَكَ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا»

Janganlah seorang wanita mengizinkan seseorang berada di rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya dan janganlah ia bangkit dari tempat tidurnya lalu mendirikan shalat sunnah kecuali dengan izin suaminya. (H.R ath-Thabrani).

Di antara kebaikan pergaulan istri terhadap suaminya adalah keridhaannya jika suaminya memarahinya. ‘Abdullah bin ‘Abbas menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda:

«أَلاَّ أُخْبِرُكُمْ بِِِِنِسِائِكُمْ مِنْ أَهْلِ اْلجَنَّةِ اْلوَدُوْدُ اْلوَلُوْدُ اْلعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا الَّتِيْ إِذَا آذَت أَوِ أُوْذِيَتْ جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بِيَدِ زَوْجِهَا ثُمَّ تَقُوْلُ وَاللهِ لاَ أَذُوْقُ غَمِضاً حَتَّى تَرْضَى»

Ingatlah, aku telah memberitahu kalian tentang istri-istri kalian yang akan menjadi penduduk surga, yaitu yang penyayang, banyak anak (subur), dan banyak memberikan manfaat kepada suaminya; yang jika ia menyakiti suaminya atau disakiti, ia segera datang hingga berada di pelukan suaminya, kemudian berkata, “Demi Allah, aku tidak bisa memejamkan mata hingga engkau meridhaiku.” (H.R al-Baihaqi).

Semua sifat di atas adalah sifat-sifat yang seharusnya menjadi sifat para wanita. Sebaliknya, ada sifat-sifat yang justru harus dijauhi oleh para wanita, di antaranya:

Pertama, menyusahkan atau menyakiti suaminya.

Mu‘adz bin Jabal menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

«لاَ تُؤَذِّي اِمْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِيْ الدُّنْيَا إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ اْلحُوْرِ اْلعِيْنِ لاَ تُؤَذِّيْهِ قاَتَلَكِ اللهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا»

Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istri-istri suaminya dari para bidadari surga berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah mencelakakanmu. Sesungguhnya bagimu akan segera datang tamu kematian yang akan memisahkanmu dengan suamimu dan mengembalikannya kepada kami.” (H.R at-Tirmidzi).

Kedua, mengadukan suaminya atau banyak menuntut suaminya.

Sa‘id ibn al-Musayab menuturkan bahwa seorang anak perempuan pernah datang kepada Nabi saw. dan mengadukan suaminya. Nabi saw. kemudian bersabda (yang artinya), “Kembalilah engkau. Sungguh, aku tidak menyukai wanita menyeret ekornya mengadukan suaminya.” (HR. Sa‘id bin al-Musayyab).

Ketiga, banyak keluar rumah.

Berdiam di rumah bagi seorang wanita lebih baik daripada ia keluar dari rumah. Kesibukannya di dapur (menyiapkan makanan untuk suami keluarganya), aktivitasnya mengasuh anak, atau kegiatannya mencuci adalah lebih mulia daripada kepergiannya ke luar rumah dan berada di jalan-jalan, di kendaraan umum, atau di tempat-tempat umum yang berdesak-desakan dan bercampur dengan para lelaki.

Atas wanita shalihah ini Allah berjanji dalam firman-Nya:

]لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا[

Allah pasti akan memasukkan Mukmin laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah pun menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu sesunguhnya di sisi Allah merupakan keberuntungaan yang besar. (QS al-Fath [48]: 5).

Menjadi Suami Sholeh

Menjadi suami shalih berarti menjalankan setiap kewajibannya dengan sebaik-baiknya.

Suami shalih adalah pemimpin yang bertanggungjawab.

Allah berfirman,


“Laki-laki adalah pemimpin wanita karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka...” (QS an-Nisa’ [4] : 3)

Rasulullah bersabda,

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ َ

“..Seorang laki-laki (suami) adalah pemimpin keluarganya; ia bertanggungjawab atas yang dipimpinnya...” (Muttafaq’alaih).

Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang mengendalikan rumah tangganya menuju ridla Allah dan surga-Nya; menghindarkan keluarga dari api neraka.

Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan yang diperintahkan.” (T.Q.S At-Tahrim : 6)

Ini tugas utama para suami, mengantarkan diri, istri dan anak-anaknya menuju surga Allah bersama-sama. Reuni bersama di tempat mulia itu.

Karakter laki-laki (suami) shalih kurang lebih sebagai berikut:

Pertama, memperhatikan agama keluarganya.

Misalnya, memerintahkan keluarganya untuk shalat.

Allah berfirman,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi yang bertakwa.” (TQS Thaha : 132)

Contoh lain, memerintahkan istri dan anak-anak perempuannya untuk berkerudung dan berjilbab ketika keluar rumah.

Allah Swt. berfirman:

]وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ[

Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimâr) sampai ke dada-dada mereka. (QS an-Nur [24]: 31).

Allah Swt. berfirman :

]يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ ِلأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ[

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS al-Ahzab [33]: 59).

Kedua, menafkahi keluarga (makan, pakaian, tempat tinggal).

Allah Swt. berfirman:

]وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ[

Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf. (QS al-Baqarah [2]: 233).

]أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ[

Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kalian bertempat tinggal, sesuai dengan kemampuan kalian. (QS ath-Thalaq [65]: 6).

Dalam riwayat Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban dishahihkan oleh al Hakim nabi saw. bersabda, “Engkau harus memberinya makan, jika engkau makan, dan memberinya pakaian jika engkau berpakaian, janganlah memukul wajah, jangan menghinanya, dan jangan membiarkanya (marah/mendiamkan) kecuali di rumah.”

Satu hal penting sebagai catatan, bahwa kewajiban menafkahi istri tidak berarti suami wajib memiliki pekerjaaan tetap, tetapi dalam kondisi apapun suami harus tetap bekerja sebab, esensinya adalah memberi nafkah bukan tetap atau tidaknya pekerjaan. Namun jika bisa punya pekerjaan tetap mungkin akan lebih menenteramkan.

Ketiga, membimbing dan sabar dalam nasehati istri.

Laki-laki shalih adalah pembimbing yang senantiasa lembut dan sabar. Dia tidak keras, kasar dan tidak pula terlalu lemah.

Rasulullah bersabda, “Nasehatilah wanita dengan baik. Sebab sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok di atasnya. Oleh karena itu bila kamu keras memaksanya dalam meluruskannya, maka akan hancurlah ia, dan bila kamu tinggalkan (biarkan), ia akan bengkok selamanya. Maka nasehatilah wanita dengan baik.” (H.R Bukhari Muslim).

Keempat, menjaga rahasia istrinya.

Dalam sebuah riwayat nabi saw., bersabda, “Hal yang termasuk amanah berat di hadapan Allah pada hari kiamat adalah suami yang membuka rahasia kepada istrinya dan istri membuka rahasia diri kepada suaminya, kemudian suaminya menyebarluaskan rahasia istrinya.” (H.R Muslim)

Bahkan untuk rahasia keluarga orang lain, kita tidak boleh bertanya-tanya. Rasulullah mengingatkan, “Janganlah seorang lelaki bertanya tentang sebab orang lain memukul istrinya.” (H.R Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Kelima, mempergauli istri dengan baik (makruf), menyenangkan; tidak kaku.

Allah berfirman,

ً

Bergaullah kalian dengan mereka secara patut. Kemudian jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS an-Nisa’ [4]: 19).

Diriwayatkan Rasulullah bersabda,

«خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِهِ, وَأَنَا خَيْرُكُمْ ِلأَهْلِيْ»

Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan keluargaku.” (H.R al-Hakim dan Ibnu Hibban)

Sikap mempergauli istri dengan baik antara lain:

  1. Memanggil dengan panggilan yang menyenangkan

Seperti Rasulullah memanggil ‘Aisyah, istri beliau dengan panggilan mesra, ya humaira’ atau hai ‘Aisy.

  1. Mencandainya

Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya; ....” (H.R an-Nasa’i)

Rasulullah juga mengajak istrinya berlomba lari, menertawai istrinya yang saling cemburu, romantis, dll.

  1. Membantu kerepotan istri

‘Aisyah pernah ditanya, “Apakah yang dilakukan Rasulullah di dalam rumah?” Ia menjawab, “Beliau adalah manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (H.R Ahmad dan Tirmidzi)

Menurut riwayat Muslim, ‘Aisyah berkata, “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat).”

  1. Tidak memukul wajah istri, menghina atau membencinya

Nabi bersabda, “...janganlah memukul wajah, jangan menghinanya, dan jangan membiarkannya (marah/mendiamkan) kecuali di rumah.” (H.R Ahmad).

«لاَ يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً وَإِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا بِآخَرَ»

Janganlah seseorang mukmin membenci istrinya yang mukminah. jika dia tidak menyukai suatu perangainya, niscaya dia meridhai perangai yang lain. (H.R Muslim)

Jika ada alasan syar’i bagi suami untuk memukul, maka nabi bersabda, “Apabila mereka melakukan itu (pelanggaran) maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan atas mereka berhak dipenuhi rezeki dan pakaiannya dengan cara yang makruf.” (H.R Muslim)

  1. Bersabar atas perilaku yang kurang menyenangkan


Bergaullah kalian dengan mereka secara patut. Kemudian jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS an-Nisa’ [4]: 19).

Maka, menjadi suami shalih berarti menepati seluruh ketentuan agama dalam urusan keluarga. Dan atas orang-orang seperti itu Allah berjanji dalam firman-Nya:

]لِيُدْخِلَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا[

Allah pasti akan memasukkan Mukmin laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah pun menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Yang demikian itu sesunguhnya di sisi Allah merupakan keberuntungaan yang besar. (QS al-Fath [48]: 5).

Jadikan Rumahmu Laksana Surga

Saudaraku fillah, jadikan rumah kalian laksana taman surga. Surga kecil di bumi ini. Di dalamnya ada ketenteraman. Jauh dari pertengkaran dan perselisihan. Penuh canda. Tidak kaku. Sebab, candanya seorang suami dengan istrinya bukanlah termasuk kesia-siaan. Rasulullah bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya,.....” (H.R an-Nasa’i)

Saling tolong menolonglah kalian dalam ketakwaan.

Sebab kata Rasulullah, “Allah merahmati seorang suami yang bangun malam lalu menunaian shalat. Dia bangunkan istrinya, jika istrinya enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun malam untuk menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan, maka ia percikan air ke wajahnya.” (H.R Abu Dawud, Nasa’i Ibnu Majah)

Masya Allah, betapa bahagianya suami istri yang demikian ini. Ia pasti merasakan indahnya ‘surga’ di dunia ini. Damai rasanya. Bisa sholat malam berdua, membaca al Quran bersama, sesekali masak berdua. Atau mungkin jalan-jalan pagi berdua. Indah sekali. Insya Allah hal ini bisa menguatkan ‘athifah dan nafsiyah.

Akhi, di surga itu tidak ada panggilan yang menyakitkan. Karena itu panggillah istri dengan sebutan menyenangkan. Seperti Rasulullah memanggil Aisyah, istri beliau dengan panggilan mesra, ya humaira atau hai Aisy.

Ukhti, biarkan ‘surga’ kalian tidak ada kesedihan. Tersenyumlah selalu, agar terasa kebahagiaan. Hilangkan kesusahan suamimu. Biarkan suamimu berkata, “Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihan,” demikian dia menirukan Ali bin Abi Thalib mengomentari istrinya, Fatimah.

Saling ringan-meringankanlah kalian dalam semua tugas. Berbagi itu penting sekali untuk keharmonisan. Suami tak perlu merasa rendah jika membantu kerepotan istri di dapur atau sekedar memenuhi kebutuhan sendiri. Yang mulia panutan kita saja melakukannya. Aisyah pernah ditanya, “Apakah yang dilakukan Rasulullah di dalam rumah?” Ia menjawab, “Beliau adalah manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu dan melayani diri beliau sendiri.” (H.R Ahmad dan Tirmidzi)

Menurut riwayat Muslim, Aisyah berkata, “Beliau biasa membantu keluarga, apabila mendengar seruan adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan shalat).”

Belajar Terus, Terus Belajar

Ingatlah kembali satu pesan mulia beberapa saat sebelum ikrar akad nikah diucapkan! “Kalian harus siap memilik hati yang menerima, jiwa yang rela, sikap yang menenteramkan, dan kesediaan untuk berjuang bersama-sama.” Renungkan kembali!

Saudaraku, yang tak kalah penting dalam hubungan suami istri adalah saling memahami. “Belajarlah terus mengenali istrimu sebab sampai kapanpun engkau tak bisa mengenalinya,” kata sebuah nasehat. Ini tidak hanya berlaku bagi suami, tapi juga kepada istri.

Ungkapan belajarlah terus dan sampai kapan pun menunjukkan sebuah proses belajar tanpa batas waktu. Seumur hidup. Sebab mengenali pasangan hidup tidaklah mudah. Sebab yang dikenali bukanlah benda. Tapi jiwa, kecenderungan, harapan-harapan, dan perasaan.

Betapa memahami itu begitu sulit. Perlu proses belajar dan toleransi. Perlu bicara dari hati ke hati. Perlu keberanian untuk menerima keputusan yang disepakati dengan ikhlas. Perlu kejujuran untuk mengakui perbedaan karena berbeda sudut pandang, kebutuhan, atau pengalaman. Perlu waktu.

Mengenal memang sulit. Memahami itu perlu kepekaan. Kadang-kadang tanpa sebab yang jelas kita merasa kecewa. Salah paham. Kadang-kadang karena omongan yang tidak berkenan, sikap yang kurang cocok dengan keinginan, tiba-tiba saling diam, jutek, sumpek, merasa disalahkan, merasa diabaikan atau tiba-tiba saja muncul perasaan jengkel, marah, dan perasaan yang tak karuan.

Ya, kadang-kadang perasaan semacam itu muncul hanya karena dipicu oleh hal-hal yang sepele. Itu tadi, tidak jelas sebabnya. Entahlah, kadang-kadang perasaan yang lain juga muncul. Misalnya, perasaan menuntut hal-hal yang lebih dari biasanya. Sebagai suami misalnya, suatu ketika ingin diperhatikan lebih. Suatu saat tertentu ingin melihat istri selalu tersenyum, selalu mengerti kebutuhan, ingin melihat semuanya bersih, rapi dll. Sama seperti seorang istri. Tiba-tiba berubah menjadi lebih sensitif, tiba-tiba sewot, tiba-tiba diam, cemberut, malas tersenyum dan malas bicara. Tidak jelas sebabnya. Sepele saja, hanya salah omong atau keliru sikap. Ini proses pengenalan dan saling memahami.

Itulah kenyataan yang harus disikapi dengan satu keputusan; berbenah. Ini konsekuensi logis yang harus dilakukan. Caranya, dengan banyak belajar. Terutama belajar menerima dan memahami bahwa itu semua sebagai sebuah proses pematangan kedewasaan. Pendewasaan sikap hidup. Ya, kenyataan dari penggalan kisah hidup itu harus diterima karena di dalamnya ada lautan hikmah. Di sini tempat belajar. Di laboratorium kehidupan. Hadapi semua itu dengan satu keyakinan, bahwa semua peristiwa hidup ini tidak sia-sia, pasti ada hikmah di balik itu semua. Satu di antara hikmah itu adalah kita sedang diajak untuk menjadi orang yang berani dewasa.

Berbenah adalah kata kunci bagi sebuah perubahan. Tanpa berbenah, kekurangan, kelemahan, ketidaksempurnaan kita akan terus menganga. Seperti luka yang tak diobati. Seperti api yang tak dipadamkan, yang bisa saja tiba-tiba membakar apa saja yang ada di dekatnya. Karena itu kita harus berbenah. Caranya, dengan terus-menerus memperbaiki diri.

Sungguh, sebagai pasangan kekasih kita memang harus bisa menerima kekurangan dan kelemahan kekasih dengan ikhlas. Namun tetap hasus ada proses perubahan; memperbaiki diri. Bukan tidak berbenah. Kekurangan harus disempurnakan. Dengan proses belajar. Belajar terus. Dan terus belajar. Tak ada satu keadaanpun sebagai pembatas belajar. Belajar itu seumur hidup. Tak ada usia pembatas belajar. Belajar itu seumur hidup. Terus dan terus. Dari buaian hingga liang lahat.

Oh ya, kenapa kadang-kadang suami diam ketika ‘dimarahi’ istri? Ini yang perlu diketahui oleh istri. Sebab, hati suami berkata, “Aku lebih butuh dimaafkan. Sebab tanggungjawabku lebih besar darimu. Selama ini ada hak-hakmu sebagai istri belum bisa aku tunaikan, terlupakan, atau terabaikan. Mungkin aku lebih sering berharap daripada memberi, lebih banyak menyusahkan daripada menyenangkan, lebih banyak mencela daripada memuji, lebih sering memerintah daripada memberi contoh. Maka, maafkan suamimu.”

Itulah gemuruh hati suami saat itu. Maka sesekali mengertilah. Ada perasaan bersalah di sana. Hehm....Sungguh, seharusnya pernikahan mampu memompa perkembangan diri dengan sempurna. Mengantarkan kita untuk lebih baik, lebih berilmu, dewasa, bertakwa, dll.

Dan, akhirnya tunggulah wahai para istri, jika engkau shalihah, suamimu kelak akan menulis surat untukmu.

“Untukmu istriku tercinta, siapapun kamu, engkaulah yang tercantik di hatiku. Engkaulah bidadari hatiku. Engkaulah kuncup yang akan kutiup agar mekar jadi bunga, yang harumnya mempesona dunia, yang kelak akan membuat cemburu para bidadari surga.”

Wallahu a’lamu bi ash shawab

Tidak ada komentar: