Minggu, 02 Maret 2008

Keluarga Selaras, Keluarga Bahagia


Saat berwisata bersama keluarga. Melihat gunung yang menjulang, pepohonan yang rindang, hati ini terasa lapang. Air mengalir jernih berkelok-kelok dengan suara gemericiknya, seperti mendengar nyanyian alam. Ada resonansi yang membelai di dalam dada. Pancaran frekuensi keselarasan itu sesuai dengan getaran hati ini.

Sebaliknya saat melihat bencana hutan yang rusak dan gundul. Lingkungan yang kotor dan semrawut. Atau selokan yang tersumbat, sampah yang bertebaran sehingga berakibat banjir. Apa yang terasa? Pikiran ini pun ruwet. Hati serasa sumpek. Keadaan yang kita hadapi itu tidak selaras dengan hati ini.

Bagaimana agar hidup ini selaras dalam hidup sehari-hari? Keluarga selaras, keluarga bahagia.

Selaras Sarana

Meja kerja kita dengan berkas dan lembaran kerja bertumpukan tak karuan, bisa saja memancing kesumpekan. Lemari yang isinya tidak tertata dan bercampur baur, juga bisa menjadi penyulut keruwetan. Ruang garasi yang kotor dan penuh dengan barang yang berantakan, serasa menyebalkan. Saat kita tidak menempatkan secara tepat, akan terjadi ketidakselarasan. Mencari berkas yang mestinya hanya setengah menit, tapi bisa menjadi berjam-jam karena terselip di tempat yang tidak semestinya.

Kunci kendaraan pun menyelinap saat mau berangkat kerja. Akibatnya pagi yang semestinya disambut dengan senyum, malah diisi uring-uringan dengan istri. Akan lebih runyam kalau istri terpancing bereaksi, masalahnya pun malah melebar ke mana-mana.

Tempatkan sesuatu pada tempatnya. Itulah yang harus kita lakukan. Alam yang terbentang ini terasa indah karena Allah yang Maha Adil telah menyelaraskan dan menyeimbangkannya. Sebagai khalifah fil ardh, kita hendaklah berpartisipasi melakukan hal ini; penyelarasan. Berbagai keruwetan itu antara lain karena banyaknya hal yang belum ditata pada tempatnya. Pungut dan singkirkan yang mengganggu, tentu akan memberi kemudahan bagi kita dan keluarga. Kalau itu dilakukan dengan ikhlas juga merupakan bagian dari iman.

Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih. Yang paling utama adalah laa ilaaha illallah, dan yang paling kecil menyingkirkan gangguan duri dari jalan. (Al Hadist).

Untuk membenahi dan menata hunian kita ini ada kiat lima R. Pertama Ringkas; singkirkan barang yang tak berguna dan sisakan yang benar-benar dipakai. Tidak jarang, tanpa sadar kita memenuhi ruang kita dengan sampah. Lemari penuh, laci berjejal-jejal terisi benda tak berguna. Barang yang tak terpakai bisa saja disisihkan atau berikan ke orang yang lebih membutuhkan. Dengan ringkas; tempat yang sebelumnya sumpek pun akan terasa lebih lapang.

Kedua Resik; bersihkan. Setelah diringkas, biasanya akan tampak sampah dan debu yang terselip di pojok sana-sini. Bersihkan maka yang sebelumnya kotor akan resik. Yang semula pengap akan terasa segar.

Ketiga Rapi; tata pada tempatnya. Yang semula bercampur tak karuan, kumpulkan sesuai fungsinya. Sehingga kalau membutuhkan tak lagi buang-buang waktu lagi. Hati ini tak lagi uring-uringan karena mudah mendapatkan kala dibutuhkan.

Keempat Rawat; jaga setiap hari kerapian dan kebersihan itu. Hal ini tak lagi terasa berat kalau dilakukan secara rutin. Hanya membutuhkan waktu sebentar karena hanya perawatan saja.

Kelima Rajin; dengan perawatan setiap hari tampaklah keindahan dan keselarasan di hunian kita. Hal ini akan memberikan pengaruh positif. Saat kita melihat semua tertata pada tempatnya dan tampak indah akan membuat pikiran dan hati ini ringan dan tak lagi uring-uringan.

Selaras Nilai

Mungkin saja kita sudah menyelaraskan yang ada di hunian kita, tapi hal itu belum banyak artinya kalau kita tidak juga menyelaraskan nilai-nilai dalam hati kita. Seorang yang tidak menempatkan nilai pada tempatnya, juga akan terjadi berbagai ketimpangan. Bahkan terjadi konflik dalam jiwa ini. Semua sarana itu baru dapat dinikmati keselarasannya kalau nilai-nilai dalam hati ini selaras sesuai fitrah. Sarana itu hanyalah alat. Dan seorang mukmin, sudah barang tentu menempatkan nilai tertingginya pada tauhid, yaitu mencari rida Allah. Keluarga akan kokoh bila menjadikan nilai ini sebagai nilai tertinggi. Allah-lah pemberi kebahagiaan yang sesungguhnya.

Tetapi sayangnya sering kali justru nilai tertinggi ini diabaikan dan diganti dengan yang lain. Saat berlimpah harta sudahkah kita sisihkan hak para duafa? Atau ada kesempatan di depan mata memperkaya diri, bisakah kita tetap istikamah? Atau mungkin mulai mengeluh, “Bapak ini punya kedudukan kok kehidupan kita begini-begini saja. Jangan terlalu jujur Pak... Kapan kita bisa cepat kaya?”

Akibat bisikan ini, suami bisa saja terpengaruh dan mulai berpikir bagaimana cara pintas mencapainya. Mereka yang demikian ini tanpa sadar telah menjadikan harta sebagai tujuan dan melupakan tujuan yang hakiki.

Dijadikan indah pada pandangan manusia terhadap wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak meliputi emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran: 14)

Kalau semua itu didapatkan dengan cara yang halal tentu tak bermasalah. Tetapi kalau harus mengabaikan nilai hakiki, tentu akan menuai persoalan yang lebih rumit. Kerumitan pertama adalah pertentangan antara tindakannya dengan fitrah nurani dan keimanannya. Akibatnya muncul adalah kecemasan tiada henti. Ada konflik dalam jiwa ini. Ketenangan mulai menguap. Sebab selain itu juga ada ketakutan dibayang-bayangi aparat hukum. Menghadapi hukum di dunia sudah demikian, bagaimana nanti di Mahkamah Ilahi kelak?

Bagaimana Rasulullah menyelaraskan nilai-nilai hidup ini? Beliau benar-benar menggunakan hartanya sebagai alat untuk berbagi sebanyak-banyaknya. Sebenarnya kalau mau, beliau bisa dan berkesempatan untuk hidup mewah dan berlebih. Tetapi yang disisakan untuk keluarganya digunakan seperlunya saja. Sampai-sampai tidur beliau hanya di tikar yang kasar sampai punggung beliau berbekas. Umar pernah meneteskan air mata melihat kesederhanaan beliau itu. Dan dengan cara hidup yang dipilih itu, beliau sukses sebagai pemimpin.

Para istri beliau pernah juga berharap mendapatkan kemewahan dan perhiasan. Saat itu mereka melihat sendiri harta benda berdatangan di hadapan beliau. Tuntutan itu sempat membuat beliau sedih dan murung berhari-hari. Ternyata bisikan dan tuntutan keluarga bisa membuat galau hati ini, bahkan Nabi sekali pun. Bagaimana saat menghadapi dilema seperti ini? Beliau mendapat wahyu untuk bersikap tegas.

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah (pemberian) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki keridaan Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. (QS. Al Ahzaab: 28- 29).

Akhirnya keluarga menyadari bahwa nilai hidup tertinggi beliau adalah rida Allah. Prioritas hidup Rasul adalah semata berjuang di jalan Allah. Misi hidup beliau adalah berdakwah menyebar rahmat ke seluruh alam. Dengan istikamah dalam iman teraih hidup bahagia dan mulia. Keluarga pun bisa bahagia. Baiti jannati, rumahku surgaku, kata beliau.

Selaraskan sarana, hidup pun terasa mudah. Dan istikamahlah pada nilai tauhid semoga kita dan keluarga bisa wisata di surga-Nya. Amiin.


Tidak ada komentar: