Kamis, 08 Januari 2009

JANGAN BIARKAN KEKERASAN MENGHANCURKANMU!


Bila kita membuka sejenak lembaran sejarah kehidupan manusia, banyak peristiwa besar yang terjadi baik itu positif atau negatif, yang melibatkan tangan-tangan generasi muda. Allah l menggambarkan masa muda sebagai masa kuat di antara dua masa yang lemah, sebagaimana firman-Nya,

“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Ar-Ruum: 54)


Para generasi muda banyak yang membuktikan, pada masa mereka kegiatan yang mereka lakukan mampu mengubah wajah dunia, baik itu ke arah positif atau negatif. Sebagai contoh, kemerdekaan Republik Indonesia dimotori oleh generasi muda. Begitu juga era reformasi.

REMAJA DAN KARAKTERNYA
Membicarakan sosok remaja adalah obyek yang tidak pernah basi. Sosok mereka selalu dimulai dengan gejolak baik fisik ataupun mental. Jiwa mereka penuh petualangan. Mereka seolah memiliki dunia tersendiri. Pada umumnya jiwa remaja selalu menjadi climber, manusia yang selalu dipenuhi semangat untuk menjadi yang terdepan dalam banyak hal. Bahkan banyak dari remaja mencari tantangan-tantangan baru tanpa peduli bahaya dan risiko-risiko yang dihadapinya.

Heroisme di dada mereka membuat remaja siap menghadapi tantangan apa pun yang menghadang. Proses pendewasaan mereka pun berkelok tajam, tak semulus jalan tol, bahkan kadang mereka tak peduli pada keselamatan diri hingga terperosok dalam jurang kegelapan.

Jiwa muda yang penuh gejolak inilah yang kadang menyeret remaja pada hal-hal yang tak seharusnya, apalagi jika mereka tak memiliki filter dalam memilih pergaulan. Sebagian dari mereka kadang terjebak dalam “dunia lain” yang menawarkan kebebasan bertindak.

Remaja-remaja dalam sekejap berubah menjadi “preman-preman” yang sarat kekerasan dan kebrutalan sebagai aktualisasi diri dan pengakuan terhadap eksistensi mereka, baik itu secara pribadi atau berkelompok seperti yang banyak kita saksikan dan dengar akhir-akhir ini. Remaja terlibat genk motor yang brutal, ataupun remaja putri yang terlibat genk brutal dengan menganiaya remaja putri lain yang dianggap melebihi dan menyaingi mereka. Adakah yang salah dengan mereka?

ANAKKU, KEMANA KAU HEMPAS KELEMBUTANMU?
Sebenarnya tak ada yang salah dengan remaja dan dunianya, selama semuanya masih berada dalam koridor dan nilai-nilai positif. Baik itu menyangkut sikap ataupun pergaulan mereka. Tak ada salahnya jika kita mendapati remaja hidup bergaul dalam satu komunitas tertentu selama komunitas itu mengarah pada hal-hal positif. Namun jika pergaulan dan komunitas tersebut mengarahkan remaja pada hal-hal yang bersifat negatif dan merusak, inilah yang salah.

Tak ayal hal ini mau tak mau layak kita cermati. Mengapa ada dari remaja memilih pergaulan yang negatif penuh kekerasan seperti yang ramai diberitakan akhir-akhir ini, meski mereka tahu risikonya tak ringan. Yang menyedihkan, seiring waktu fenomena kekerasan yang melibat remaja kian marak. Media seolah menjadi iklan gratis bagi ”sosialisasi” kekerasan, hingga bukan mustahil remaja-remaja lain menirunya. Makin perih hati kita, juga kita dibuat ternganga, kekerasan remaja ini juga melibatkan remaja putri, sosok yang seharusnya penuh kelembutan.

Kondisi global dunia telah memberikan pengaruh signifikan bagi remaja yang notabene labil. Belum lagi serbuan budaya dan idiologi akan melahap habis remaja yang tidak siap dan tidak memiliki filter yang kuat untuk menghadapinya. Hingga pada akhirnya sebagian remaja terjebak dalam pergaulan bebas tanpa aturan yang pasti, serta menyeret mereka berkenalan dengan kekerasan dan sejenisnya.

Akankan kondisi ini akan kita biarkan berlarut-larut membelenggu anak-anak kita yang seharusnya menjadi harapan di masa depan? Haruskan kita biarkan masa remaja mereka sia-sia? Haruskah kekerasan merenggut kelembutan dalam jiwa-jiwa remaja kita? Sementara dalam satu haditsnya Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan menyukai kelembutan dalam segala urusan.” (Bukhari Muslim)

BAGAIMANA ISLAM MENYIKAPI FENOMENA INI DAN SOLUSI
Adanya fenomena kekerasan ini, Islam menyikapi dengan aktif dan bijaksana. Sesungguhnya hal ini tidak perlu terjadi jika para remaja-remaja ini tidak terputus dari tali Islam serta perubahan mendasar, tujuan dan polagaya hidup keluarga yang seharusnya bisa menjadi tempat anak-anak bernaung. Dan merupakan hal penting yang harus segera dilakukan yaitu usaha untuk mengembalikan fungsi keluarga Islam sesungguhnya. Kemudian baru dipecahkan dan diurai satu persatu permasalahan ini menurut kacamatan Islam, karena dalam tubuh para remaja juga masyarakat.

Gencarnya serangan ghazwul fikri yang dilakukan musuh-musuh Islam ikut mempercepat semakin menurunnya kwalitas kepribadian dan akhlak para remaja. Perubahan tata nilai dalam masyarakat makin menyuburkan kerusakan moral remaja. Keteladanan dalam keluarga hilang sekolah yang dihaharapkan mampu mewakili pendidikan generasi tak bisa berbuat banyak. Kesalahan fatal sebagai sumber utama kerusakan moral termasuk kekerasan remaja adalah berawal dari keluarga, remaja dewasa ini kebanyakan kurang memperoleh kasih sayang dan perhatian sebagaimana mestinya.

Belum lagijika remaja ini mengalami broken home, orang tua sering bertengkar dihadapan anak-anak. Alih-alih ketenangan yang didapatkan, malah kesumpekan yang mereka rasakan. Sementara sebagian ortu yang lain menganggap materi telah mencukupi kebutuhan remaja, namun kebutuhan pendidikan akhlaq dan tingkah laku tak penting.

Komunikasi yang tak lancar dan cenderung menyalahgunakan anak-anak tanpa mau melihat apa yang sebenarnya terjadi. Orangtua juga sering menggunakan bahasa kasar, caci maki, penginaan bahkan kekerasan fisik pada anak. Maka tak heran banyak remaja lari memilih jalan mereka mencari tempat bernaung dan berbagi untuk mencurahkan penat hati. Hingga ada yang terjebak dalam pergaulan bebas dan kekerasan.

Atas banyaknya kasus kekerasan yang melibatkan remaja Islam telah jauh-jauh sebelumnya memberikan antisipasi berupa petunjuk sekaligus sebagai solusinya.

1. Mengembalikan dan menjadikan keluarga mulsim kembali pada fungsi yang sungguhnya. Karena keluarga adalah tempat awal bagi pemebntuk akhlak generasi. Jika akhlak yang ditanamkan selalu mengandung didikan dan teladan positif maka. Hal ini bisa menjadi modal dasar yang bermanfaat, berharga saat mereka bergaul diluar rumah.

2. Islam sedari awal telah memberikan rambu-rambu sebagai penjagaan atas umatnya baik jasmani dan rohani. Baik itu menyangkut etika bergaul, cara bersikap, mengajarkan selalu berfikir positif, perlunya ilmu dan sebagainya. Memilih pergaulan dan lingkungan yang baik membuat remaja terjaga dari pergaulan yang merugikan. Rasulullah bersabda, ”Agama seseorang tergantung atas agama temannya, maka lihatlah siapa yang menemaninya” .(Abu Dawud, Tirmidzi dihasankan oleh Syaikh Al Albani).

Dalam Azzukhruf : 67 Allah berfirman akan pentingnya memilih teman.
”Teman-teman akrab pada hari itu sebagianya menjadi musuh bagi sebagian yang lain keculai orang-orang yang bertakwa”.
3. Menanamkan pentingnya ilmu dien sejak dini karena hal ini, akan membuat mereka bisa memilah yang haq dan batil.

4. Menumbuhkan pola pikir positif dan juah ke depan sehingga pikiran kita selalu berisi dorongan pada hal baik dan bermanfaat serta untung ruginya, sebab kehidupan kita adalah pikiran kita. Niat baik juga membuat kita terhindar dari lemahnya jiwa, sebagaimana firman Allah. ”Dan barang siapa yang bertawaqal pada Allah niscaya Allah akan mencukupinya” (At Thalaq 3)

5. Menumbuhkan sikap dan gaya mendidik yang dipenuhi kelembutan cinta dan kasih sayang sebagai bahasa mutlak dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak / remaja serta menjauhi sikap kasar, kerasn dan semena-mena. Allah berfirman dalam Ali Imran 159 , ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu."

6. Menjauhkan anak / remaja dari bias-bias yang memancing tindak kekerasan. Semisal, menonton film laga penuh adegan kekerasan / tayangan adu fisik semacam Smack Down, berita kriminal dan sebagainya.

Insya Allah, jika hal-hal di atas bisa dilakukan maka harapan untuk melahirkan generasi pilihan yang jauh dari kerusakan dan kekerasan akan bisa diwujudkan. Selain itu usaha yang sinergi dari seluruh pihak baik itu keluarga, sekolah juga masyarakat untuk bersama melakukan perbaikan akan menumbuhkan secercah harapan mengembalikan kondisi akhlak remaja yang mulai carut marut. Mengembalikan remaja di bawah keindahan akhlak panji-panji Islam. Seperti halnya pemuda kahfi yang selalu teguh berpijak pada kebenaran, Wallahu ’alam.

(ummu abdirrahman)

Tidak ada komentar: